Selasa, 25 Desember 2012

Dukungan untuk para Pahlawan Devisa Negara

Pembaca akan sedikit heran atau bahkan mungkin bingung dengan judul yang saya suguhkan, yaitu "Permasalahan Pemecahan Penganiayaan Hukuman TKI di luar negeri". Mengapa tidak mengunggah judul "Pemecahan Permasalahan Penganiayaan Hukuman TKI di luar negeri"? Ini dikarenakan fakta yang ada bahwa di negara kita tercinta ini dalam menangani kasus TKI selalu mengalami kendala dan muncul kasus- kasus baru lagi. Atas polemik yang berkepanjangan ini,  Komisi I pernah mengajukan untuk menutup tenaga kerja untuk ke luar negeri. Lalu kenapa sebagian penduduk Indonesia menginginkan kerja ke luar negeri?
Mari kita lihat dulu sensus penduduk di Indonesia menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) di tahun 2012 ini adalah 244.775.796 jiwa dari tahun sebelumnya naik 1.49%  yang pada tahun 2025 nanti, diperkirakan Indonesia akan menembus 300 juta jiwa. Penduduk miskin pada bulan Maret 2012 adalah 29,13juta atau 11,96%. Pengangguran di Indonesia 7 Mei 2012 adalah 7,61 juta jiwa dan pengangguran meningkat setiap tahunnya.
Sedang gaji pokok karyawan per bulan di Indonesia antara Rp 800 ribu - Rp 1.5 juta. Sekarang Kita tilik gaji para pahlawan devisa kita per bulan dari segi informal saja, itu tergantung negara masing-masing Singapura Rp 3 juta, Taiwan Rp 4.5 juta Hongkong Rp 4.2 juta, di Timur tengah Rp 2.8 juta, Malaysia, Brunei sekitar Rp2 juta. itu adalah sangat fantastik bagi para pekerja informal, di banding dengan kerja karyawan di sini. Sehingga banyak orang Indonesia kerja di bidang informal sangat menggiurkan.
Namun tidak semua pekerja yang ke sana mempunyai penghidupan yang layak. Meski Indonesia sudah mengirim tenaga kerja ke luar negeri lebih dari 20 tahun. Lalu apa yang menjadi kendala sehingga mereka mengalami penganiayaan dan hukuman ketika mereka tinggal di Indonesia? Salah satunya sebab adalah bahasa, budaya, latar belakang kehidupan pekerja dan majikan, kurang komunikasi dari pihak pekerja dan majikan, atau kurang etos semangat kerja.
Bahasa: kalau kita telaah ketika kita hidup di masyarakat, antara kota tempat kita tinggal dengan kota sebelah kita, mungkin mempunyai sedikit perbedaan dialek atau masakan ataupun gaya hidup. Belum lagi antar propinsi, apalagi pulau. Otomatis akan ada perbedaan bahasa. Nah! kalau kita berada di luar negeri, tentu budaya apalagi bahasa juga sangat jauh berbeda. Dan bahasa ada yang memakai nada atau pengejaan yang mirip namun makna yang berbeda. Untuk itu, dipersiapkan bagi TKI untuk belajar sebelum mereka datang untuk kerja di negara tujuan. Kecuali, untuk negara Malaysia, Brunei atau Singapura, tidaklah terlalu sulit, karena negara tersebut masih serumpun dengan kita.
Budaya: Kalau kita ke Timur Tengah yang nota bene mayoritas orang Islam dan mempunyai kesamaan keyakinan. Toh, para saudara kita yang kerja di sana masih banyak kendala. Kendalanya selain bahasa tapi juga budaya. Di sini, saya akan memberikan perbedaan contoh yang mencolok budaya Timur Tengah. Jika kita bekerja di Timur Tengah, yang mana adatnya bahwa perempuan sangatlah di agungkan. Mereka hanya tinggal di rumah bak putri dan permaisuri. Jadi jangan heran kalau di sana sarana perdagangan atau pasar, kantor di dominasi oleh kaum adam. Mungkin sekarang ada sedikit perubahan kalau kaum wanita juga sudah ada yang bekerja tapi dengan pakaian sesuai adat mereka. Perbedaan budaya itu juga bisa mempengaruhi faktor psikologi. Karena mereka hanya tinggal di dalam rumah, jadi sarana kurangnya kebebasan sangat terasa kalau kita tinggal di Indonesia. Lalu bagaimana kalau kita kerja di negara seperti itu? Kita harus menghormatinya, mematuhinya dan menaati peraturan di sana misalnya laki-laki bukan muhrim (saudara) tidak boleh berdekatan. Lalu kalau kita berada di tengah majikan perempuan dan majikan laki-laki? (dalam arti mengatasi tingkahlaku keseharian). Tetap kita harus menghormati adat mereka. Menjauh dari keberadaan lawan jenis. Dan terus berkomunikasilah pada sesama jenis, agar kaum hawa di sana tidak salah persepsi memandang kita. Toh kita nanti pulang, kembali ke kehidupan seperti semula dan ingatlah tujuan ke sana untuk mencari rezeki untuk kehidupan yang lebih layak di masa mendatang.

Latar belakang kehidupan pekerja dengan majikan, : rata-rata para TKI adalah orang yang berasal dari daerah. Tapi begitu kita datang ke tempat yang kita tuju, kita akan silau dengan kehidupan mereka. Yang sarana dan prasarananya jauh lebih baik dari tempat kita tinggal. Perabotan rumah tangga atau perkantoran model baru yang belum ada di Indonesia. Lalu, bagaiman bekerja di sana yang mungkin alatnya jauh lebih canggih dari sewaktu belajar di PJTKI. Konsetrasikan seluruh waktu Anda untuk bekerja dan bekerja. Jangan terfokus pada keluarga di rumah atau cacian majikan. Kelak kalau kita bekerja dengan baik, kita akan dipuji juga dan mereka tidak akan selalu memantau cara kerja kita. Saya yakin orang yang sepulang dari luar negeri sangat nampak ada perubahan akan gaya hidupnya
Etos Kerja: di negara yang menempatkan TKI adalah negara-negara yang maju dan kaya, sedang kategori negara kita adalah berkembang dengan penduduk sebagian besar adalah di bidang pertanian. Otomatis cara kerjanya, cara pandangnya agak berbeda. Namun mereka tidak memandang para TKI sebelah mata kalau cara bekerja kita disiplin, giat, ulet, inisiatif, luwes, komunikatif ini yang menjadi kunci agar mereka tidak mengalami kendala di sana.

Saran bagi para TKI:
Bersikaplah komunikatif tapi tetap menaati peraturan, kepercayaan, kejujuran, taat beragama  sangat penting. Meski sudah lama bekerja di sana jika diberi kepercayaan, seyogyanya para TKI hati-hati memegang teguh, karena mereka sangat memegang teguh adat keluarga dan juga negara.

Saran bagi PJTKI:
Seyogyanya para PJTKI tidak hanya memberikan bekal bahasa dan keterampilan saja tapi juga pelajaran tentang budaya di mana para NAKERWAN akan tinggal dan psikologi dasar. Karena tempat kerjanya kelak tidak hanya di sektor keterampilan tapi juga jasa merawat. Dihubungkan dengan siapa Nakerwan akan bekerja. Kalau dia misalnya merawat anak; beri mereka psikologi dasar tentang anak. Kalau mereka merawat orang tua; beri bekal mereka psikologi dasar tentang orang tua.

Saran bagi Wakil Rakyat:
Saya rasa tidak mungkin bagi kita menghentikan pemberangkatan TKI, karena  devisa TKI, pendapatanya di bawah MIGAS. Suatu prospek yang sangat bagus.

Saran bagi Pemerintah:
Pemerintah seharusnya tidak setengah hati dalam menangani permasalahan para pahlawan devisa, karena mereka tidak hanya mencari penghidupan untuk keluarga tapi juga secara tidak langsung merubah etos kerja di luar negeri, yang saat kembali ke negeri kita tercinta, mereka lebih terampil. Dan pendapatan yang murni dari mereka sangatlah fantastis, dibandingkan uang negara Indonesia yang disia-siakan oleh oknum pejabat yang korup.

Blog ini saya buat, mungkin jauh dari kata sempurna, karena saya masih juga belajar dalam menulis. Sumber yang saya peroleh dari Google, mengutip data BPS, TEMPO, pengalaman pribadi dan teman-teman. Terima kasih buat teman di facebook yang medukung saya; Bernadeta Flores, Sinang Sikucil, Lusiana ajja, Astutik Jaya Abadi, Samijem ayuewe, Bunga ayue Cinta Damai, Dewa Bumi. Semoga kalian sukses sepulang nanti setelah merantau mencari $$$$ demi majunya Perekonomian Indonesia.